Selasa, 14 Januari 2014

Kemajemukan Kata Dalam Bahasa Indonesia






Oleh:
                                           Dwi Retno Oktaviani
                                           Puput Dwi yana
                                           Rizka Kurnia Ayu
                                           Yuriztika Febryanti





PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010/2011


1.1              Latar Belakang
Pembicaraan tentang kata majemuk dan pemajemukan sampai sekarang belum pernah memuaskan semua pihak. Faktor-faktor yang terlibat di dalamnya tidak selalu dapat dijelaskan secara kebahasaan. Di antara penulis tata bahasa, ada yang mencoba menjelaskannya dari sudut arti yang dikandungnya, ada pula yang mencoba menjelaskan dari segi struktur dengan menentukan ciri-cirinya (Ahmadslamet, 1982:65), bahkan ada pula yang menggabungkan kedua segi tinjau tersebut.
Untuk mendapat suatu gambaran yang jelas, kita harus meninjau sejarah terbentuknya kata-kata majemuk. Menurut sejarah kata-kata majemuk itu pada mulanya merupakan urutan kata yang bersifat sintaksis. Dalam urutannya yang bersifat sintaksis tadi, tiap-tiap bentuk mengandung arti yang sepenuhnya sebagai sebuah kata. Tetapi lambat laun karena sering dipakai, hubungan sintaksis itu menjadi beku; dan sejalan dengan gerak pembekuan tersebut, bidang arti yang didukung tiap-tiap bentuk juga lenyap dan terciptalah bidang arti baru yang didukung bersama. Dan dalam proses ini tidak semua urutan itu telah sampai kepada taraf terakhir. Ada urutan kata yang masih dalam gerak ke arah pembekuan, ada yang sudah sampai kepada pembekuan itu yang masih dalam gerak itu dapat disebabkan karena gabungan itu memang sifatnya sangat longgar atau karena istilah tersebut baru saja tercipta.

1.2              Rumusan Masalah
1.2.1         Apakah pengertian kata majemuk ?
1.2.2         Bagaimana proses pembentukan kata majemuk?
1.2.3         Terdiri dari apa saja sifat-sifat kata majemuk?
1.2.4         Bagaimana ciri-ciri kata majemuk?
1.2.5         Bagaimana bentuk perulangan kata majemuk?
1.2.6         Apakah perbedaan antara kata majemuk, idiom, dan frasa?




1.3              Tujuan dan Manfaat
1.3.1        Dapat memahami pengertian dari kata majemuk
1.3.2        Mengetahui proses pembentukan kata majemuk
1.3.3        Mengetahui macam-macam sifat majemuk
1.3.4        Mengetahui ciri-ciri kata majemuk
1.3.5        Mengetahui bentuk perulangan kata majemuk
1.3.6        Mengetahui perbedaan antara kata majemuk, idiom, dan frasa


Untuk menngetahui BAB Pembahasan dan BAB Penutup silihkan berikan komentar.



















Senin, 06 Januari 2014

TEORI  SASTRA , SEJARAH  SASTRA DAN KRITIK SASTRA

       Teori sastra adalah bidang studi sastra yang berhubungan dengan teori kesusastraan, seperti studi tentang apakah kesusastraan itu, bagaimana unsur-unsur atau lapis-lapis normanya; studi tentang jenis sastra (genre ), yaitu apakah jenis sastra dan masalah umum yang berhubungan dengan jenis sastra, kemungkinan dan kriteria untuk membedakan jenis sastra, dan sebagainya ( Pradopo, 2002:34). Perihal unsur-unsur atau lapis-lapis norma karya sastra dijelaskan lebih lanjut oleh Fananie yakni menyangkut  aspek-aspek dasar dalam teks sastra. Aspek-aspek tersebut meliputi aspek intrinsik dan ekstrinsik sastra. Teori intrinsic sastra berhubungan erat dengan bahasa sebagai sistem, sedang konvensi ekstrinsik berkaitan dengan aspek-aspek yang melatarbelakangi penciptaan sastra. Aspek tersebut meliputi aliran, unsur-unsur budaya, filsafat, politik, agama, psokologi, dan sebagainya. (2000:17-18) Ditegaskan lagi oleh Pradopo ( 2002:34) bahwa pokoknya semua pembicaraan mengenai teori atau bersifat teori itu adalah lingkup teori sastra.

       Sejarah sastra adalah studi sastra yang membicarakan lahirnya kesusastraan Indonesia modern, sejarah sastra membicarakan sejarah jenis sastra, membicarakan periode-periode sastra, dan sebagainya; pokoknya semua pembicaraan yang berhubungan dengan kesejarahan sastra, baik pembicaraan jenis, bentuk, pikiran-pikiran, gaya-gaya bahasa yang terdapat dalam karya sastra dari periode ke periode  ( Pradopo,2002: 34). 

Dikemukakan oleh Fananie (2000:19-20)  bahwa berdasarkan aspek kajiannya, sejarah sastra  dibedakan men­jadi:

a.    Sejarah genre, yaitu sejarah sastra yang mengkaji perkembang­an karya-karya sastra seperti puisi dan prosa yang meliputi cerpen, novel, drama, atau sub genre seperti pantun, syair, talibun, dan sebagainya. Kajian tersebut dititikberatkan pada proses kelahirannya, perkembangannya, dan pengaruh-penga­ruh yang menyertainya.
b.    Sejarah sastra secara kronologis, yaitu sejarah sastra yang mengkaji karya-karya sastra berdasarkan periodesasi atau ba­bakan waktu tertentu. Di Indonesia penulisan sejarah sastra secara kronologis, misalnya klasifikasi periodesasi tahun 20-an, yang melahirkan Angkatan Balai Pustaka, tahun 30-an yang melahirkan Angkatan Pujangga Baru, tahun 42, sastra Jepang, tahun 45, Angkatan 45, tahun 60-an yang melahirkan Angkatan 66, dan sastra mutakhir atau kontemporer.
c.    Sejarah sastra komparatif, yaitu sejarah sastra yang mengkaji dan membandingkan beberapa karya sastra pada masa lalu, pertengahan, dan masa kini. Bandingan tersebut bisa meliputi karya-karya sastra antar negara seperti sastra Eropa dengan sastra Indonesia, Melayu, dan sebagainya. Aspek-aspek yang dibandingkan dapat meliputi beberapa hal seperti yang dike­mukakan oleh Rene Wellek, yaitu:

1)  Comparative literature: The study of oral literature expecially of falle talk themes and then imigration, of how and other they have entered higher artistic literature. (Pengkajian sastra lisan khususnya mengenai terra-terra cerita rakyat dan ceritakepindahannya, bagaimana dan kapan sastra-sastra rakyat tersebut berkembang / masuk pada bagian yang lebih tinggi pada keindahan sastra itu yang bersifat artistik).
2)  The study of relationship betwen two or more literature. (Hu­bungan kajian antara dua atau beberapa karya sastra).
2)     The study of literature in its totality (world literature or universal literature). (Kajian sastra secara keseluruhan).

Pembagian di atas hanyalah merupakan pembagian global, ka­rena secara rinci, kajian komparatifnya dapat berupa aspek baha­sanya, estetikanya, latar belakangnya, gaya, pengaruh, atau se­mua aspek yang menyertai karya tersebut.


        Kritik Sastra ialah studi sastra yang berusaha menyelidiki karya sastra dengan langsung, menganalisis, menginterpretasi, memberi komentar, dan memberikan penilaian (Pradopo,2002:34-35). Dikatakan Fananie, Kritik sastra itu semacam pertimbangan untuk menunjukkan kekuatan atau kebagusan dan juga kekurangan yang terdapat dalam karya sastra. Karena itu hasil dari kritik sastra biasanya mencakup dua hal , yaitu baik dan buruk (goodness  atau dislikeness) (2000:20).
       Untuk memperoleh gambaran yang jelas, maka kritik selalu berkaitan dengan judgement, valuation, proper understanding and recornition, statement giving valuation, and rise in value (2000:20).


Pengertian Sastra

Pengertian Sastra

Suatu hasil karya baru dapat dikatakan memiliki nilai saastra bila di dalamnya terdapat kesepadanan antara bentuk dan isinya. Bentuk bahasanya baik dan indah, dan susunannya beserta isinya dapat menimbulkan perasaan haru dan kagum di hati pembacanya.
Bentuk dan isi sastra harus saling mengisi, yaitu dapat menimbulkan kesan yang mendalam di hati para pembacanya sebagai prwujudan nilai-nilai karya seni. Apabila isi tulisan cukup baik tetapi cara pengungkapan bahasanya buruk, karya tersebut tidak dapat disebut sebagai cipta sastra, begitu juga sebaliknya.
Sastra memiliki beberapa jenis:
  • Sastra daerah, yaitu karya sastra yang berkembang di daerah dan diungkapkan dengan menggunakan bahasa daerah.
  • Sastra dunia, yaitu karya sastra milik dunia yang bersifat universal.
  • Sastra kontemporer, yaitu sastra masa kini yang telah meninggalkan ciri-ciri khas pada masa sebelumnya.
  • Sastra modern, yaitu sastra yang telah terpengaruh oleh sastra asing(sastra barat).
Contoh-contoh karya sastra yang sering kita lihat sehari-hari adalah puisi, cerpen, novel, drama, dan banyak lagi. Masing-masing karya sastra tersebut memiliki ciri khas masing-masing dan isinya juga beragam tergantung si pembuat karya sastra tersebut. Bisa saja isinya tentang kehidupan nyata si pengarang ataupun tentang kritik sosial. Walaupun bermacam-macam isinya, asalkan memiliki rasa keindahan, itu sudah dapat disebut karya sastra.
referensi:
Intisari Sastra Indonesia oleh Drs. Supratman Abdul Rani dan Dra. Yani Maryani
Intisari Bahasa dan sastra Indonesia oleh Dra. Yani Maryani dan Drs. Mumu


Sejarah Sastra di Indonesia

Dalam sejarah sastra Indonesia dikenal istilah angkatan. Yang dimaksud dengan angkatan adalah suatu usaha pengelompokan sastra dalam suatu masa tertentu. Pengelompokan ini berdasar atas ciri khas karya yang dihasilkan pada masa itu. Sastra Indonesia dibagi menjadi 4 golongan besar, yaitu:
  • Angkatan Dua Puluhan (Balai Pustaka)
Disebut angkatan dua puluhan karena angkatan inilahir pada tahun 1920-an dan disebut angkatan balai pustaka karena penerbit yang paling banyak menerbitkan adalah Balai Pustaka. Balai pustaka didirikan tahun 1917 oleh Dr. Rinkes. Penerbit ini sangat berjasa bagi dusnia sastra Indonesia karena dengan adanya penerbit ini lahir berbagai macam karya sastra terkenal.
Balai pustaka tidak hanya berperan pada masa tahun 1920-an saja melainkan sampai masa-masa berikutnya bahkan sampai sekarang. Karya yang paling terkenal pada masa ini adalah Siti Nurbaya karangan Marah Rusli. Roman ini menceritakan tentang perjodohan yang masih banyak dilakukan pada masa itu.
Beberapa karya sastra angkatan 1920-an adalah Azab dan Sengsara (roman, tahun 1920 oleh Merari Siregar), Muda Teruna (roman, tahun 1922 oleh Moh. Kasim), Tak Putus Dirundung Malang (roman, tahun 1929 oleh S.T. Alisyahbana)
  • Angkatan Tiga Puluhan (Pujangga Baru)
Angkatan ini adalah angkatan yang lahir pada sekitar tahun 1933 sampai 1942. Disebut abgkatan pujangga baru karena pada tahun 1933 terdapat majalah sastra yang terkenal, yaitu majalah Pujangga Baroe. Karya-karya yang ditampilkan dalam majalah ini adalah puisi, cerpen, novel, roman, atau drama-drama pendek.
Karya sastra pada angkatan ini berebda dengan karya sastra dengan angkatan sebelumnya. Seni menurut mereka, harus mampu membangun bangsa dan negara. Oleh karena itu, karya sastra angkatan ini lebih bersifat dinamis, individualistis, dan tidak terikat tradisi.
Karya sastra yang lahir antara lain adalah Layar Terkembang (roman, tahun 1936 oleh S.T. Alisyahbana), Anak Perawan di sarang Penyamun (roman, tahun 1942 oleh S.T. Alisyahbana), Belenggu (roman, tahun 1940 oleh Armijn Pane), dan lain-lain.
  • Angkatan '45
Nama lain angkatan ini adalah agkatan pembebasan dan angkatan Chairil anwar. Disebut angkatan Chairil Anwar karena besarnya jasa Chairil Anwar dalam lahirnya angkatan ini.Karya-karya sastra angkatan ini sangat berbeda dengan angkatan sebelumnya. Ciri-cirinya antara lain adalah bebas, individualistis, universalistis, realistik, dan futuristik. Karya yang terkenal dari angkatan ini adalah Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Romayangmerupakan kumpulaqn cerpen karya Idrus.
  • Angkatan Enam Puluh Enam
Nama angkatan ini diberikan oleh H.B. Jassin. Nama ini diberikan untuk menamakan suatu kelompok sastra setelah angkatan '45. angkatan ini muncul pada saat keadaan politik indonesia sedang kacau karena adanya gerakan teror dari PKI. Karya sastra pada angkatan ini lebih banyak bersifat protes terhadap keadaan yang kacau pada masa itu.
Beberapa karya sastra yang lahir pada angkatan ini adalah kumpulan puisi oleh Taufik Ismail yang berjudul Tirani, drama karya Motinggo Busye dengan judul Malam Jahanam, roman berjudul Pagar Kawat Berduri oleh Toha mohtar, roman Pelabuhan Hati karya Titis Basino, dan lain-lain.
  • Karya Sastra Kontemporer
Sekitar tahun '70-an, muncul karya sastra yang lain daripada karya sastra yang telah ada sebelumnya. Kebanyakan isinya tidak menekankan pada makna kata. Kemunculan karya sastra ini dipelopori oleh Sutardji Calzoum Bachri.

referensi:
Intisari Sastra Indonesia oleh Drs. Supratman Abdul Rani dan Dra. Yani Maryani
Intisari Bahasa dan sastra Indonesia oleh Dra. Yani Maryani dan Drs. Mumu


Pembagian Sastra

Karya sastra Indonesia dapat dibagi menjadi 2 menurut zaman pembuatan karya sastra tersebut. Yang pertama adalah karya sastra lama indonesia dan karya sastra baru Indonesia. Masing-masing karya memiliki ciri khas tersendiri.
Karya sastra lama adalah karya sastra yang lahir dalam masyarakat lama, yaitu suatu masyarakat yang masih memegang adat istiadat yang berlaku di daerahnya. Karya sastra lama biasanya bersifat moral, pendidikan, nasihat, adat istiadat, serta ajaran-ajaran agama. Sastra lama Indonesia memiliki ciri-ciri:
  1. terikat oleh kebiasaan dan adat masyarakat
  2. bersifat istana sentris
  3. bentuknya baku
  4. biasanya nama pengarangnya tidak disertakan (anonim)
Bentuk Sastra lama indonesia adalah Pantun, Gurindam, Syair, Hikayat, Dongeng, dan Tambo.
Karya sastra baru Indonesia sangat berbeda dengan sastra lama. Karya sastra ini sudah tidak dipengaruhi adat kebiasaan masyarakat sekitarnya. Malahan karya sastra baru Indonesia cenderung dipengaruhi oleh sastra dari Barat atau Eropa.Ciri-ciri sastra baru Indonesia adalah:
  1. Ceritanya berkisar kehidupan masyarakat
  2. Bersifat dinamis (mengikuti perkembangan zaman
  3. Mencerminkan kepribadian pengarangnya
  4. Selalu diberi nama sang pembuat karya sastra
Bentuk sastra baru Indonesia antara lain adalah Roman, Novel, Cerpen, dan Puisi Modern.
       

Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah pengungkapan perasaan atau pikiran dengan menggunakan pilihan kata tertentu. Dengan cara itu, kesan dan efek yang ditimbulkan dapat dicapai semaksimal mungkin. Gaya bahasa terbagi menjadi empat golongan:
  • Gaya bahasa penegasan, terdiri dari:
    • Repetisi, adalah gaya bahasa yang menegaskan sesuatu dengan mengatakannya secara berulang-ulang
    • Anafora, pengulangan kata pada awal kalimat
    • Epifora, pengulangan kata pada akhir kalimat
  • Gaya bahasa perbandingan,terdiri dari:
    • Hiperbola, adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu secara berlebihan
    • Metonimia, adalah gaya bahasa yang menamakan sesuatu dengan nama pabrik, merek, atau yang lainnya
    • Personifikasi, adalah gaya bahasa yang membandingkan seolah-olah benda mati dapat bernyawa
    • Metafora, adalah gaya bahasa yang membandingkan sesuatu secara langsung dengan singkat dan padat
  • Gaya bahasa pertentangan, terdiri dari:
    • Paradoks, adalah gaya bahasa yang isinya bertentangan dalam satu kalimat
    • Antitesis, adalah gaya bahasa yang menggunakan paduan kata yang saling bertentangan
    • Litotes, adalah gaya bahasa yang ditujukan untuk mengurangi makna yang sebenarnya
    • Oksimoron, adalah gaya bahasa yang antara bagian-bagiannya saling bertentangan
  • Gaya bahasa sindiran, terdiri dari:
    • Ironi, adalah gaya bahasa yang mengatakan sesuatu dengan makna yang berlainan
    • Sinisme, adalah gaya bahasa yang cara pengungkapannya lebih kasar dibandingkan ironi
    • Sarkasme, adalah gaya bahasa yang sindirannya paling kasar dalam pengungkapannya


Istilah kesusastraan :

  • Alazon : seseorang yang memerankan tokoh pembohong
  • Akseptasi : suatu kata yang maknanya telah diketahui secara umum
  • Alur : rangkaian peristiwa yang terjalin secara sebab akibat dari awal sampai akhir
  • Amanat : pesan-pesan moral yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya
  • Anekdot : cerita lucu atau sindiran terhadap oarang atau sesuatu yang belum tentu kebenarannya
  • Antagonis : tokoh yang bertentangan dengan tokoh utama
  • Antologi : Kumpulan karya pilihan baik puisi atau prosa
  • Biografi : cerita hidup seseorang dari sejak kecil hingga dewasa atau akhir hayatnya
  • Deklamasi : menampilkan puisi dengan gerak dan seluruh kemampuan mimik wajah
  • Determinisme : cabang aliran naturalisme yang bercirikan paksaan nasib, yaitu nasib yang ditentukan oleh masyarakat
  • Eksposisi : karangan berbentuk penjelasan atau pemaparan terhadap sesuatu
  • Elegi : sajak yang mengandung rasa duka
  • Fabel : cerita tentang binatang yang bertingkah laku seperti manusia
  • Folklore : cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun
  • Fragmen : cuplikan cerita dari keseluruhan cerita
  • Homofon : kata yang pengucapannya sama tapi maknanya berbeda
  • Homonim : kata yang sam lafal dan ejaannya tetapi maknanya berbeda
  • Homograf : kata yang ejaannya sama, tetapi berbeda lafal dan maknanya
  • Polindrom : kata atau angka yang dapat dibaca dari depan maupun belakan
  • Pepatah : kata atau pernyataan pendek yang digunakan untuk menyindir atau memberi nasihat
  • Parabel : cerita fiksi pendek yang isinya melukiskan sikap moral dan keagamaan yang menggunakan ibarat atau perumpamaan
  • Rima : perulangan bunyi yang sam di akhir baris dalam puisi
  • Romantisme : aliran sastra yang mengutamakan perasaan
  • Unsur intrinsik : unsur yang membangun suatu karyasastra dari dalam sastra itu sendiri

  Di ambil dari buku Intisari Sastra Indonesia dan berbagai catatan pelajaran Bahasa Indonesia

Masalah Angkatan dan Periodisasi Sastra

Masalah Angkatan dan Periodisasi Sastra
Sastra ada dalam kehidupan: Masalah Angkatan dan Periodisasi ... masalah yang dijadikan objek karya kreatifnya. Periodisasi Sastra . Ada Angkatan ’45 lahir dalam suasana lingkungan yang sangat prihatin dan kehidupan berbangsa dan Angkatan 66. 3. Perbedaan periodisasi sastra sangat mempengaruhi ciri struktur dan ciri dalam kehidupan nyata 45, dan angkatan 66
Periodisasi Sastra ialah kehidupan sadar dan nonrasional dalam citraan) Bersikap nihil (hampa) Memunculkan masalah gender Ada pula yang bercorak vulgar.
Dalam Periodisasi. Sastra oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan Kehidupan kita ialah sebuah cerita, bayak makna yang dapat kita gali untuk membuat suatu karya sastra, sering kali kita tidak menyadari adalah seorang penulis. angkatan dalam periodesasi sastra ada perbedaan antara karya sastra dengan kehidupan sehari-hari
Periodisasi Sastra Indonesia
Periodisasi sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra yang ditandai dengan ciri-ciri tertentu. Maksudnya tiap babak waktu (periode) memiliki ciri tertentu yang berbeda dengan periode yang lain.
1.       Zaman Sastra Melayu Lama
Zaman ini melahirkan karya sastra berupa mantra, syair, pantun, hikayat, dongeng, dan bentuk yang lain.
2.       Zaman Peralihan
Zaman ini dikenal tokoh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Karyanya dianggap bercorak baru karena tidak lagi berisi tentang istana danraja-raja, tetapi tentang kehidupan manusia dan masyarakat yang nyata, misalnya Hikayat Abdullah (otobiografi), Syair Perihal Singapura Dimakan Api, Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah. Pembaharuan yang ia lakukan tidak hanya dalam segi isi, tetapi juga bahasa. Ia tidak lagi menggunakan bahasa Melayu yang kearab-araban.
3.       Zaman Sastra Indonesia
a.       Angkatan Balai Pustaka (Angkatan 20-an)
Ciri umum angkatan ini adalah tema berkisari tentang konflik adat antara kaum tua dengan kaum muda, kasih tak sampai, dan kawin paksa, bahan ceritanya dari Minangkabau, bahasa yang dipakai adalah bahasa Melayu, bercorak aliran romantik sentimental.
Tokohnya adalah Marah Rusli (roman Siti Nurbaya), Merari Siregar (roman Azab dan Sengsara), Nur Sutan Iskandar (novel Apa dayaku Karena Aku Seorang Perempuan), Hamka (roman Di Bawah Lindungan Ka’bah), Tulis Sutan Sati (novel Sengsara Membawa Nikmat), Hamidah (novel Kehilangan Mestika), Abdul Muis (roman Salah Asuhan), M Kasim (kumpulan cerpen Teman Duduk)
b.       Angkatan Pujangga Baru (Angkatan 30-an)
Cirinya adalah 1) bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia modern, 2) temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang kompleks, seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya, 3) bentuk puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris, 4) pengaruh barat terasa sekali, terutama dari Angkatan ’80 Belanda, 5)aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan  6) setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.
Tokohnya adalah STA Syhabana (novel Layar Terkembang, roman Dian Tak Kunjung Padam), Amir Hamzah (kumpulan puisi Nyanyi Sunyi, Buah Rindu, Setanggi Timur), Armin Pane (novel Belenggu), Sanusi Pane (drama Manusia Baru), M. Yamin (drama Ken Arok dan Ken Dedes), Rustam Efendi (drama Bebasari), Y.E. Tatengkeng (kumpulan puisi Rindu Dendam), Hamka (roman Tenggelamnya Kapa nVan Der Wijck).
c.        Angkatan ’45
Ciri umumnya adalah bentuk prosa maupun puisinya lebih bebas, prosanya bercorak realisme, puisinya bercorak ekspresionisme, tema dan setting yang menonjol adalah revolusi, lebih mementingkan isi daripada keindahan bahasa, dan jarang menghasilkan roman seperti angkatan sebelumnya.
Tokohnya Chairil Anwar (kumpulan puisi Deru Capur Debu, kumpulan puisi bersama Rivai Apin dan Asrul Sani Tiga Menguak Takdir), Achdiat Kartamiharja (novel Atheis), Idrus (novel Surabaya, Aki), Mochtar Lubis (kumpulan drama Sedih dan Gembira), Pramduya Ananta Toer (novel Keluarga Gerilya), Utuy Tatang Sontani (novel sejarah Tambera)
d.       Angkatan ’66
Ciri umumnya adalah tema yang menonjol adalah protes sosial dan politik, menggunakan kalimat-kalimat panjang mendekati bentuk prosa.
Tokohnya adalah W.S. Rendra (kumpulan puisi Blues untuk Bnie, kumpulan puisi Ballada Orang-Orang Tercinta), Taufiq Ismail (kumpulan puisi Tirani, kumpulan puisi Benteng), N.H. Dini (novel Pada Sebuah Kapal), A.A. Navis (novel Kemarau), Toha Mohtar (novel Pulang), Mangunwijaya (novel Burung-burung Manyar), Iwan Simatupang (novel Ziarah), Mochtar Lubis (novel Harimau-Harimau), Mariannge Katoppo (novel Raumannen).


STRUKTURALISME AMERIKA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1          Latar Belakang
Dalam Ilmu Linguistik terdapat beberapa aliran. Aliran yang dianut tersebut menjadi dasar bagi cara pengkajian dan analisis unsur pokok Ilmu linguistik yaiotu bahasa. Antara satu aliran dengan aliran yang lainnya memiliki beberapa perbedaan. Terutama bagaimana cara pandang aliran tersebut terhadap bahasa.
Antara satu aliran dan aliran yang lainnya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Aliran Praha tidak bisa dipisahkan dengan aliran strukturalis Amerika. Dan ada saatnya aliran Tta Bahasa Transformasi tidak dapat dipisahakan juga dari studi aliran linguistik diakronik. Sebagai contoh pada Linguistik Tradisional khususnya pada saat Linguistik Modern digagas.
Karena adanya keheterogenan aliran dalam ilmu linguistik itu, maka perlu adanya telaah khusus pada masing-masing  aliran. Agar terpenuhinya pemahaman akan masing-masing aliran secara mendalam. Maka perlu bagi kelompok kami untuk memaparkan Aliran Strukturalis Amerika.


1.2          Rumusan masalah

1.2.1         Apa definisi dari Strukturalisme Amerika?
1.2.2         Siapa tokoh-tokoh yang berperan dalam pengkajian Aliran Strukturalisme Amerika?
1.2.3        Faktor apakah yang menyebabkan Aliran Stukturalisme Amerika ini berkemkembang?
1.2.4        Teori dan praktek  yang bagaimanakah yang digunakan oleh Kaum Strukturalisme Amerika?


1.3         Tujuan dan manfaat


1.3.1        Untuk mengetahui definisi dari Strukturalisme Amerika.
1.3.2        Untuk mengetahui tokoh-tokoh yang berperan dalam pengkajian Aliran Strukturalisme Amerika.
1.3.3        Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan Aliran Strukturalisme Amerika dapat berkembang
1.3.4        Untuk mengetahui konsep teori dan praktik dari aliran strukturalisme Amerika.



BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Strukturalisme Amerika
Salah satu aliran dalam ilmu linguistik adalah Aliran Strukturalisme Amerika. Sebuah aliran yang memiliki kekhususan analisis bahasa dan cara kerjanya. Kekhususan itu terlihat dari cara kerjanya yang fokus pada struktur bahasa. Struktur itu terdiri dari fon,fonem,morfem,kata kalimat da wacana. Namun tingkatan bahasa tersebut dianalisis sendiri-sendiri. Jadi antar sturktur bahasa dianggap terpisah.
Pada dasarnya, aliran strukturalisme Amerika adalah aliran yang bermula pada permulaan abad XX. Aliran itu terdapat di kontinen Eropa dan benua Amerika sebelah Utara. Jika di Eropa dikenal Ferdinand De Saussure, Boudouin de Courtenay, Hjemself, Henry Sweet, O Jepersen danlain- lain. Di benua Amerika sebelah utara ada Franz Boaz, Edward Sapir, dan Leonard Bloomfield. Menyusul generasi berikutnya yang disebut dengan kaum Pasca Bloomfield. AmerikaFonologi dijadikan dasar bagi penelitian-penelitiannya.

  
2.2 Tokoh yang berperan dalam Aliran Strukturalisme Amerika
       Dalam Linguistik di Amerika mempunyai tiga tokoh yang sangat berperan dalam pengkajian bahasa di benua tersebut. Ketiga tokoh tersebut ialah Franz Boaz, Edward Sapir dan Leonard Bloomfield.
Franz Boaz merupakan seorang linguis yang otodidaktik yang telah menyumbangkan peran pada penelitian bahasa-bahasa Indian Amerika. Boaz meneliti bahasa baik di rumpun Indo-Eropa maupun diluar Indo-Eropa. Di Indo-Eropa membahas mengenai Infleksi penanda sedangkan diluar Indo-Eropa, Boaz mencermati tentang struktur bahasa Indian. Pandangan Boaz setiap bahasa akan memiliki kategori-kategori logis yang merupakan keharusan digunakan pada bahasa tersebut. Ia dalam membahas strutural bahasa ini lebih menitik beratkan pada bidang fonetik. Bahasa menurut Boaz merupakan tuturan artikulasi yang berupa kategori gramatikal, pronomina kata ganti (sendiri atau non sendiri) dan verb (orang, number, tense, mood, dan voice).
Seorang mahasiswa Boas yang bernama Edward Sapir tak kalah dalam menyampaikan argumennya. kajiannya yang terkenal ialah mengenai suatu pemerian bahasa. Selain itu, ia juga mempunyai suatu konsep bahasa yaitu makna bahasa dikaitkan dengan visual, tingkat pemahaman dan rasa hubungan serta kesesuaian bahasa dengan makna. Dari ide yang tertuang dibenaknya, murid dari Boaz ini lalu membagi konsepnya menjadi sub kajian yaitu unsur-unsur tuturan, bunyi bahasa, bentuk bahasa, bahasa-ras-dan kebudayaan. Unsur-unsur turunan berupa hubungan antara bentuk linguistik, proses gramatikal dan konsep gramatikal. Sedangkan bunyi bahasa mengenai pola atau perbedaaan bunyi cocok dalam perbedaan bahasa. Lain halnya dengan bentuk bahasa yang menurut Sapir dapat dibagi menjadi konsep dasar dan metode formal. Sedangkan pendapatnya yang terakhir mengenai corak suatu bahasa ini dia kaji karena sebelum menekuni bidang linguistik ia juga menekuni bidang antropologi.
          Linguis ketiga yang mengkaji bahasan ini ialah Leonard Bloomfield. Bloomfield merupakan linguis Amerika yang peling besar peranannya dalam menyebarkan prinsip dan metode strukturalisme Amerika. Salah satu rumusannya digambarkan dengan rumus rangsangan dan tanggapan dengan formula R – t.....r – T maksudnya suatu rangsangan praktis (R) menyebabkan seorang berbicara alih-alih bereaksi secara praktis, ini merupakan penganti bahasa-bahasa (t). Bagi pendengar, hal itu merupakan rangsangan pengganti bahasa (r) yang menyebabkan dia memberi tanggapan praktis (T). Rumus di atas sangat sinkron bila diterapkan dengan teori makna Bloomfield yang membedakan peristiwa bahasa dengan peristiwa praktis dalam sebuah tuturan. Selain teori tersebut Bloomfield juga mencetuskan teori mengenai bentuk bahasa, dari hasil penelitiannya digariskan bahwa bentuk bahasa dibagi menjadi dua bentuk terikat dan bentuk bebas, serta 4 cara penyusunan form yaitu order, modulation, phonetic modification dan selection. Bentuk dapat dibagi dalam beberapa kelas yaitu Sentence type (kalimat Tanya, kalimat berita dan sebagainya), Construction (bisa juga disebut Syntax) dan Substitution (bentuk grammar yang berhubungan dengan penggantian konvensional)
        Selain ketiga tokoh sentral tersebut, dalam perkembangan strukturalisme Amerika juga diteruskan oleh sebagian murid-muridnya lPasca Bloomfield. Kejanggalan dalam menjelaskan analisis bahasa dijelaskan oleh murid kesayangan Bloomfield, yaitu Charles F. Hockett. Penjelasan itu diungkapkan dalam bukunya yang berjudul ‘ Two models of Grammatical Description ‘.

2.3 Faktor-faktor yang menyebabkan berkembangnya Strukturalisme   Amerika
1. Pada masa itu para linguis di Amerika menghadapi masalah yang sama, yaitu banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diperikan. Mereka ingin memerikan bahasa bahasa-bahasa Indian dengan cara yang baru, yaitu secara sinkronik. Karena cara lama yaitu historis atau secara diakronik kurang bermanfaat dan diragukan keberhasilannya. Karena sejarah bahasa Indian itu sedikit sekali diketahui. Malah banyak yang belum diketahiui.
2. Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik yang sejalan denhan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu di Amerika, yaitu filsafat behaviourisme. Oleh karena itu, dalam memerika bahasa aliran strukturalisme ini selalu mendasarkan diri dalam fakta-fakta objektif yang dapat dicocokkan dalam kenyataan – kenyataan yang dapat diamati. Juga tidak mengherankan kalau masalah makna dan arti kurang mendapat perhatian. Malah ada linguis amerika yang mendapat perhatian,bahkan ada linguis Amerika misalnya Zellig S. Haris dengan bukunya Structural Linguistics yang terpengaruh oleh Bloomfield bertindak lebih jauh dengan meninggalkan makna  sama sekali.Hal itu dikarenakan oleh cara kerjanya yang berdasarkan pada data empiris,sebagai contoh fonem,morfem dan kalaimat yang dapat dianalisis dan dipisah pisahkan.Sedangkan makna tidak bias dianalisis secara empiris.
3. Adanya The Linguistic Society of America menciptakan hubungan yang baik antara linguis-linguis sampai menerbitkan majalah language , wadah tempat melaporkan hasil kerja mereka.Mereka bekerja dengan cara menekankan pentingnya data yang objektif dalam bahasa. Bentuk satuan satuan bahasa diklasifikasikan berdasarkan distribusinya sehingga mereka disebut kaum distribusionalis. Aliran strukturalis yang dikembangkan oleh Bloomfield dan para pengikutnya  disebut Taksonomi atau Bloomfieldian dan post-Bloomfieldian. Disebut demikian (aliran Taksonomi) dikarenakan oleh sistem analisis dan klasifikasi unsur-unsur bahasa berdasarkan hubungan hierarkinya.


2.4 Teori dan Praktik
       Dasar dari teori aliran strukruralisme Amerika adalah fokus penelitian pada struktur bahasa. Contohnya dalam analisis kalimat adalah digunakannya teknik Immediate Constituen Analisys (IC Analisys) . Bahan analisisnya adalah unsur-unsur langsung yang menyusun suatu kalimat.
        Unsur langsung itu adalah struktur bahasa. Struktur Bahasa adalah kesatuan pola yang menyusun kerangka suatu bahasa. Struktur itu memilki hubungan hierarki antara unsur yang satu dengan yang lainnya. Unsur paling kecil akan membentuk unsur yang lebih besar. Dan unsur itu yang lebih besar itu akan membentuk unsur yang lebih besar lagi. Begitu seterusnya.

Berikut hierarki struktur bahasa yang dimaksud :


a.      FON
Fon adalah bunyi ujaran yang diucapkan dan didengar oleh indra pendengar kita. Fon secara khusus dipelajari dalam fonetik.
b.      FONEM
Fonem adalah perwujudan dari fon dan memiliki fungsi pembeda. Cabang ilmu fonemik mempelajari ini. Antara fonetik dan fonemik merupakan cabang ilmu dari ilmu Fonologi.
c.       MORFEM
Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang mampu muncul berulang-ulang dengan bentuk lain. Perilaku morfem secara khusus dipelajari dalam Morfologi.
d.      KATA
Kata merupakan satuan Sintaksis. Kata memiliki beberapa ragam tergantung sudut pandang mana yang dijadikan acuan.
e.       FRASE
Frase merupakan sebuah kata atau lebih yang memiliki kesamaan fungsi.
f.       KLAUSA
Klausa ditandai dengan intonasi belum berhenti atau koma.
g.      KALIMAT
Kalimat merupakan sebuah klausa atau lebih  dalam satu intonasi final atau titik.
h.      WACANA
Wacana adalah gabungan antara beberapa kalimat dalam hubungan antara hal-hal yang umum dengan hal-hal yang lebih khusus. Atau dapat juga dikatakan sebagai gabungan kalimat yang memiliki hubungan dekat. Atau hubungan lain yang saling melengkapi.

Dari keempat bentuk visualisasi pengklasifikasian unsur-unsur kalimat di atas terlihat bahwa hubungan antar struktur bersifat hierarki.
           Secara teori, kaum strukturalis Amerika memotong-motong,memisah-misahkan bahasa dalam strutur bahasa. Hubungan antar struktur bhasa yang hierarki ini tidak ditelaah secara hierarki pula. Tetapi justru diberi batasan bahwa antar struktur tidak dapat disangkut pautkan. Misalkan saja saat meneliti kata yang dijadikan dasarnya adalah tentang kata itu sendiri. Tidak dapat dilihat dari struktur yang lebih kecil seperti morfem atau fonem.
         Oleh karena metode penelitian yang berusaha mensegmentasikan bahasa dalam fon, fonem dan seterusnya itu oleh kaum transformasi memberikan sebutan dengan ilmu taksonomi bahasa. Hal itu dikarenakan oleh penelitian yang bersifat penemuan-penemuan. Dalam ilmu lain, taksonomi adalah tahapan penelitian paling mendasar. Dan bagi kaum transformasi kaum strukturalisme Amerika adalah kaum yang belum sampai pada penarikan teori kebahasaan.
         Hal yang cukup fundamental dalam strukturalisme Amerika adalah kaum strukturalisme Amerika menganggap bahwa aspek makna atau semantik tidaklah penting bagi bahasa. Aspek itu pernah disinggung dalam suatu pembahasan namun tidak dijadikan pertimbangan yang cukup penting. Dan yang menjadi fokus penelitian tetap terbatas pada strukturnya saja.
         Bloomfield masih terpengaruh oleh filsuf-filsuf behaviorisme. Sehingga dalam meneliti bahasa Bloomfield menganggap bahwa bahasa dapat berupa verbal maupun nonverbal. Bahasa verbal dapa berupa ujaran sedangkan bahasa non verbal adalah berupa tingkah laku sebagai respon bahasa verbal. Bahasa non verbal juga dapat berupa isi hati seseorang yang tidak diungkapkan dalam bentuk ujaran. Sehingga dalam bentuk bukan ujaran pun bahasa non verbal tetaplah merupakan bahasa.




BAB III
PENUTUP

3.1       KESIMPULAN
            Satu hal yang dapat disimpulkan dari Aliran Strukturalis Amerika adalah bahwa dalam analisis bahasa yang digunakan hanyalah bahan yang mentah. Yaitu tanpa melihat dari segala aspek yang dikandung secara hierarki tersebut sebagai satu kesatuan yang utuh. Antar struktur tidak terjalin suatu korelasi terlebih mengenai aspek semantik.
3.2       SARAN
            Perlu adanya suatu interpretasi antar struktur sehingga segala aspek bahasa mampu saling melengkapi. Karena antar struktur jelasnya memilki hubungan yang dekat terkait dengan hierarkinya.





DAFTAR PUSTAKA
1.      Chaer, Abdul.2007. Linguistik Umum. Rineka Cipta : Jakarta
2.      Dardjowidjojo,Soenjono (Ed).1987,Linguistik:Teori & Terapan.jakarta:Lembaga  Bahasa Universitas Katholik Atma Jaya

3.