Masalah
Angkatan dan Periodisasi Sastra
Sastra ada dalam kehidupan: Masalah Angkatan
dan Periodisasi ... masalah yang dijadikan objek karya kreatifnya. Periodisasi
Sastra . Ada Angkatan ’45 lahir dalam suasana lingkungan yang sangat prihatin
dan kehidupan berbangsa dan Angkatan 66. 3. Perbedaan periodisasi sastra sangat
mempengaruhi ciri struktur dan ciri dalam kehidupan nyata 45, dan angkatan 66
Periodisasi Sastra ialah kehidupan sadar dan
nonrasional dalam citraan) Bersikap nihil (hampa) Memunculkan masalah gender
Ada pula yang bercorak vulgar.
Dalam Periodisasi. Sastra oleh sastra Melayu
Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan eseis, dan
kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan Kehidupan kita ialah sebuah
cerita, bayak makna yang dapat kita gali untuk membuat suatu karya sastra,
sering kali kita tidak menyadari adalah seorang penulis. angkatan dalam
periodesasi sastra ada perbedaan antara karya sastra dengan kehidupan
sehari-hari
Periodisasi
Sastra Indonesia
Periodisasi
sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra yang ditandai
dengan ciri-ciri tertentu. Maksudnya tiap babak waktu (periode) memiliki ciri
tertentu yang berbeda dengan periode yang lain.
1.
Zaman Sastra Melayu Lama
Zaman
ini melahirkan karya sastra berupa mantra, syair, pantun, hikayat, dongeng, dan
bentuk yang lain.
2.
Zaman Peralihan
Zaman
ini dikenal tokoh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Karyanya dianggap bercorak
baru karena tidak lagi berisi tentang istana danraja-raja, tetapi tentang
kehidupan manusia dan masyarakat yang nyata, misalnya Hikayat Abdullah
(otobiografi), Syair Perihal Singapura Dimakan Api, Kisah Pelayaran Abdullah ke
Negeri Jedah. Pembaharuan yang ia lakukan tidak hanya dalam segi isi, tetapi
juga bahasa. Ia tidak lagi menggunakan bahasa Melayu yang kearab-araban.
3.
Zaman Sastra Indonesia
a.
Angkatan Balai Pustaka (Angkatan 20-an)
Ciri
umum angkatan ini adalah tema berkisari tentang konflik adat antara kaum tua
dengan kaum muda, kasih tak sampai, dan kawin paksa, bahan ceritanya dari
Minangkabau, bahasa yang dipakai adalah bahasa Melayu, bercorak aliran romantik
sentimental.
Tokohnya
adalah Marah Rusli (roman Siti Nurbaya), Merari Siregar (roman Azab dan
Sengsara), Nur Sutan Iskandar (novel Apa dayaku Karena Aku Seorang Perempuan),
Hamka (roman Di Bawah Lindungan Ka’bah), Tulis Sutan Sati (novel Sengsara
Membawa Nikmat), Hamidah (novel Kehilangan Mestika), Abdul Muis (roman Salah
Asuhan), M Kasim (kumpulan cerpen Teman Duduk)
b.
Angkatan Pujangga Baru (Angkatan 30-an)
Cirinya
adalah 1) bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia modern, 2) temanya tidak
hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang kompleks,
seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya, 3) bentuk
puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari
bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14
baris, 4) pengaruh barat terasa sekali, terutama dari Angkatan ’80 Belanda,
5)aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan 6) setting yang
menonjol adalah masyarakat penjajahan.
Tokohnya
adalah STA Syhabana (novel Layar Terkembang, roman Dian Tak Kunjung Padam),
Amir Hamzah (kumpulan puisi Nyanyi Sunyi, Buah Rindu, Setanggi Timur), Armin
Pane (novel Belenggu), Sanusi Pane (drama Manusia Baru), M. Yamin (drama Ken
Arok dan Ken Dedes), Rustam Efendi (drama Bebasari), Y.E. Tatengkeng (kumpulan
puisi Rindu Dendam), Hamka (roman Tenggelamnya Kapa nVan Der Wijck).
c.
Angkatan ’45
Ciri
umumnya adalah bentuk prosa maupun puisinya lebih bebas, prosanya bercorak
realisme, puisinya bercorak ekspresionisme, tema dan setting yang menonjol
adalah revolusi, lebih mementingkan isi daripada keindahan bahasa, dan jarang
menghasilkan roman seperti angkatan sebelumnya.
Tokohnya
Chairil Anwar (kumpulan puisi Deru Capur Debu, kumpulan puisi bersama Rivai
Apin dan Asrul Sani Tiga Menguak Takdir), Achdiat Kartamiharja (novel Atheis),
Idrus (novel Surabaya, Aki), Mochtar Lubis (kumpulan drama Sedih dan Gembira),
Pramduya Ananta Toer (novel Keluarga Gerilya), Utuy Tatang Sontani (novel
sejarah Tambera)
d.
Angkatan ’66
Ciri
umumnya adalah tema yang menonjol adalah protes sosial dan politik, menggunakan
kalimat-kalimat panjang mendekati bentuk prosa.
Tokohnya
adalah W.S. Rendra (kumpulan puisi Blues untuk Bnie, kumpulan puisi Ballada
Orang-Orang Tercinta), Taufiq Ismail (kumpulan puisi Tirani, kumpulan puisi
Benteng), N.H. Dini (novel Pada Sebuah Kapal), A.A. Navis (novel Kemarau), Toha
Mohtar (novel Pulang), Mangunwijaya (novel Burung-burung Manyar), Iwan
Simatupang (novel Ziarah), Mochtar Lubis (novel Harimau-Harimau), Mariannge
Katoppo (novel Raumannen).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar